KH Blog

Di Kunci Hidup, kami berdedikasi untuk membantu kamu membuka potensi penuh dari pikiran, tubuh, dan jiwa. Melalui ajaran transformatif kami, kami membimbing kamu untuk terhubung lebih dalam dengan diri sendiri, melepaskan keyakinan yang membatasi, dan merangkul kehidupan yang penuh kelimpahan dan tujuan. Setiap artikel di blog ini dirancang untuk menginspirasi, mendidik, dan memberdayakan perjalananmu menuju penemuan diri dan pertumbuhan pribadi.

Kalau Kamu Sudah 'Move On' Tapi Tubuhmu Masih Reaktif, Ini Penjelasannya

alchemy & personal transformation Jan 22, 2026

Jadi ceritanya kamu itu bilang kamu udah move on nih. Tapi tubuhmu, tubuhmu masih di sana. Tubuhmu masih takut, masih tegang, masih suka bereaksi.

Mungkin kamu tiba-tiba merasa cemas tanpa sebab misalnya. "Kenapa ya kok aku tiba-tiba cemas?" Atau mungkin tiba-tiba kamu tegang gitu ya, kaku semuanya di situasi tertentu. Atau mungkin kamu itu sulit rileks walaupun pikiranmu bilang "it's ok, semuanya baik-baik aja kok."

Tapi sebenarnya ini bukan hanya perasaanmu saja, Say. Dan ini juga bukan karena kamu itu terlalu sensitif seperti yang biasanya kan orang bilang. "Ah, itu cuma perasaanmu aja. Kamunya aja kali yang terlalu sensitif."

Bukan. Bukan itu.

Ini adalah bukti fisik yang nyata bahwa trauma itu tidak hanya tersimpan di pikiran kita saja, tetapi dia tersimpan di tubuh kita.

 

Mengapa Pikiran Saja Tidak Cukup

Kamu bisa membaca afirmasi seharian sampai mulutmu berbusa. Kamu juga bisa bilang sama temanmu, "Ah, aku udah move on kok."

Tapi kalau tubuhmu itu masih menyimpan pelajaran dan pengalaman dari rasa sakit itu, kamu enggak akan pernah bisa benar-benar move on.

Karena di level yang paling dalam dari pikiranmu, sistem syarafmu itu masih percaya bahwa dunia itu enggak aman. Bahwa dunia itu masih jahat sama kita.

Dan kalau kita mau benar-benar lepas dari pola yang lama, kita itu enggak bisa cuma bekerja di level pikiran saja.

Kita harus turun ke tubuh. Kita harus ngobrol sama sistem syaraf kita dengan bahasanya mereka sendiri. Karena tubuh itu punya bahasa sendiri.

 

Trauma Itu Bukan Hanya Cerita, Tapi Reaksi Tubuh

Banyak orang berpikir bahwa trauma itu cuma soal kenangan buruk atau pengalaman yang menyakitkan. Tapi sebenarnya trauma itu lebih kompleks dari apa yang mereka pikirkan.

Trauma itu bukan tentang cerita yang sudah terjadi. Trauma itu adalah tentang sistem syaraf kita waktu itu dan apa yang terjadi.

Karena sistem syaraf kita itu enggak pernah lupa. Dia selalu catat kejadian apapun. Dan dia akan menyimpannya di dalam tubuh kita. Dia akan mempelajari bahwa dunia itu berbahaya. Dan sekarang dia itu enggak mau melepaskan kejadian itu begitu saja.

Walaupun kejadiannya itu mungkin sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu.

Kenapa Ada Yang Pulih Cepat, Ada Yang Tidak?

Ada dua orang yang bisa mengalami kejadian yang sama persis. Tapi yang satu pulih dalam waktu seminggu, sementara yang satunya lagi masih terjebak di dalam pola kecemasan atau reaktivitas atau rasa takut yang sama selama berpuluh-puluh tahun kemudian.

Bedanya di mana?

Karena trauma itu bukan hanya di ingatan pikiran kita saja. Trauma itu adalah sebuah reaksi tubuh yang belum pernah selesai.

Emosi itu kan sebenarnya hanya akan datang ke dalam tubuh kita selama 60 detik. Cuma kebanyakan orang enggak paham bagaimana cara menyelesaikannya.

 

Bagaimana Tubuh Merespons Ancaman: Fight, Flight, Freeze, Fawn

Pada saat ada bahaya atau pada saat pikiran kamu menanggapi atau berpikir ada bahaya, alarm itu akan nyala secara otomatis. Tubuh kamu itu akan masuk ke mode survival.

Semua energinya itu akan pergi ke otot kita. Adrenalinnya itu akan ngalir. Kamu akan siap untuk survival atau bertahan.

Ada empat cara tubuh kamu bisa merespons sebuah ancaman. Kita sebut sebagai fight, flight, freeze, atau fawn.

1. Fight (Melawan)

Biasanya kamu akan menjadi sangat agresif atau gampang marah misalnya. Atau mungkin kamu selalu merasa perlu membuktikan dirimu sendiri. Atau kamu enggak bisa santai karena ada bagian dalam dirimu yang selalu siaga dan siap untuk melawan.

Ini biasanya seringkali terlihat seperti perfeksionisme atau ambisi yang berlebihan. Atau rasa marah yang keluar di tempat-tempat yang tidak terduga. Tiba-tiba meledak. Hal yang sepele bikin kamu murka gitu. Gampang banget untuk marah.

2. Flight (Kabur/Lari)

Biasanya kamu akan menjadi seseorang yang overthinker. Kamu sulit untuk diam. Maunya sibuk aja. Atau kamu mencari cara untuk menghindari sebuah rasa.

Kamu bisa jadi seseorang yang kerja terus, shopping, atau social butterfly yang tidak pernah sendirian. Semua ini adalah cara kamu untuk menghindari perasaan yang sebenarnya ada di dalam dirimu. Perasaan yang kamu enggak mau merasakan.

3. Freeze (Membeku)

Kamu merasa stuck. Entah itu stuck dalam mengambil keputusanmu atau dalam sebuah emosi atau dalam hidup secara umum. Semuanya terasa mandek, stuck.

Kamu mulai merasa mati rasa secara emosional atau kesulitan untuk menetapkan tujuan. Kamu juga merasa seperti penonton dalam kehidupanmu sendiri. Kayak nonton film sendiri, enggak terlibat.

4. Fawn (Menyenangkan Orang Lain)

Ini biasanya yang paling banyak aku lihat pada wanita Indonesia.

Kamu akan menjadi seseorang yang disebut sebagai people pleaser. Seseorang yang sulit untuk mengatakan tidak. Kamu mengutamakan kebutuhan orang lain daripada kebutuhanmu sendiri.

Kamu khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan tentang kamu. Kamu akan mengatur setiap tindakanmu berdasarkan apa yang akan membuat orang lain bahagia. Instead of apa yang akan membuat kamu merasa bahagia.

Dan people pleaser ini sebenarnya sangat mahal untuk energimu. Ujung-ujungnya kamu yang rugi.

 

Alarmmu Masih Berbunyi, Padahal Bahayanya Sudah Berlalu

Sekarang yang enggak banyak dimengerti orang adalah ini: Alarmmu itu masih berbunyi.

Padahal ancamannya memang sudah berlalu. Sudah 5 tahun yang lalu, 10 tahun yang lalu. Tapi sistem syarafmu itu enggak tahu kalau ancaman itu sudah selesai.

Dia masih merasa kamu dalam bahaya. Jadi dia masih menyalakan alarmnya.

Makanya kamu selalu cemas tanpa alasan yang jelas.

Makanya kamu tiba-tiba tegang di sebuah situasi yang sebenarnya sepele. Makanya ada konflik sederhana, kamu mikirnya itu perang, ribut, drama gitu.

Dan inilah kenapa kamu mengalami reaksi yang berlebihan terhadap sesuatu yang sebenarnya kecil.

Kenapa kamu tiba-tiba merasa cemas pada saat bos kamu ngasih feedback yang sebenarnya kecil, biasa aja? Tapi kamu kayak ketakutan setelah mati.

Kenapa kamu tidak bisa rileks di dalam rumahmu sendiri walaupun kamu tahu itu aman?

Kenapa setiap ada konflik kecil terasa seperti kamu lagi ribut besar?

Cerita Pribadimu: Feedback dan Reaktivitas

Aku akan share sedikit cerita tentang diriku.

Dulu waktu awal-awal aku pendekatan sama suamiku saat ini, setiap kali dia ngasih aku feedback gitu. Apapun itu tentang sikapku atau bisnis dan lain sebagainya.

Dan feedback itu kadang bagus dalam komunikasi, gitu. Yang namanya ngobrol dengan aku, aku selalu berpikir aku juga bagus berkomunikasi. Karena aku kan sales, gitu kan? Otomatis sales harus pintar berkomunikasi.

Tapi ternyata yang namanya bagus dalam berkomunikasi itu bukan komunikasi yang santai, yang baik-baik, yang jualan, atau yang social butterfly untuk semua orang happy.

Komunikasi yang bagus bisa berkomunikasi dengan bagus di area yang berat. Area yang berat itu apa? Berarti dikritik, dikasih masalah yang besar, trouble, problem solving, dan lain sebagainya.

Nah, waktu awal-awal kita pacaran, kita banyak masukan karena beda culture, beda budaya, banyak perbedaan yang harus dikomunikasikan.

Pada saat itu aku selalu berpikir kita berantem. Jadi waktu kita 3 tahun kemudian, aku cerita sama dia, "Ya dulu kita tuh sering banget berantem, loh."

Dia jawab, "Hah? Berantem katanya?"

"Iya."

"Kamu ingat enggak waktu kamu ngomong ABCD gitu?"

"Oh, itu buat kamu berantem katanya."

"Ya, itu kita berantem."

"Oh, iya. Itu memang hard discussion. Diskusi yang memang berat gitu ya. Tapi aku enggak pernah melihatnya sebagai berantem. Aku aja enggak tinggi suaranya. Aku biasa aja."

"Iya, betul kamu biasa aja. Tapi entah kenapa itu kayak ngajak ribut di akunya gitu."

Intinya bukan karena aku itu terlalu sensitif atau terlalu drama. Tapi memang nervous system-ku saat itu memang begitu.

Jadi kalau dikasih masukan sedikit, langsung ngambek. Sistem syarafku itu masih menyimpan energi dari masa lalu yang belum dilepaskan. Energi itu harus pergi ke sebuah tempat. Harus diproses dan dimurnikan.

Dan kabar baiknya: Kita bisa mengajarkan sistem syaraf kita untuk merasa aman lagi. Jadi it's doable. Bukan sesuatu yang mentok.

 

Somatic Healing: Bekerja Pada Level Yang Lebih Dalam

Somatic healing bekerja pada level yang lebih dalam, yaitu pada level sistem syaraf yang ada di dalam tubuh kita.

Tubuh kita itu kayak gelas. Setiap trauma, setiap stres yang enggak pernah kita selesaikan, semuanya numpuk di dalam gelas itu.

Kalau gelasnya penuh, kamu jadi mudah cemas tanpa alasan, mudah tersinggung, mudah burnout. Tubuhmu sakit-sakitan.

Somatic healing kita itu mulai mengosongkan gelasnya sedikit demi sedikit sampai sistem syarafmu bisa bernafas lagi.

Intinya kita mulai membuang airnya dari gelas itu sedikit demi sedikit. Kita proses semua emosi-emosi yang ada di dalam tubuh kita.

Dan cara melakukannya, kita enggak harus menggali trauma lama atau menghidupkan kembali pengalaman yang menyakitkan. Kita enggak perlu ngobrolin lagi. Enggak perlu ingat-ingat lagi.

Kita cukup mengajarkan tubuh kita untuk menyelesaikan apa yang belum selesai. Dan caranya sebenarnya sangat mudah.

 

Tiga Teknik Somatic Healing

Ada tiga teknik yang kami gunakan dalam somatic healing:

1. Body Awareness Practice

Langkah pertama adalah mengenali di mana tubuhmu menyimpan ketakutan. Di mana rasanya yang tidak berdaya itu tinggal. Ketika kamu cemas, apa yang terjadi sama tubuhmu?

Body awareness practice adalah latihan sederhana di mana kamu cuma perlu duduk, bernafas, dan mulai mendengarkan tubuhmu.

Enggak ada yang perlu diperbaiki. Kamu cuma butuh kasih perhatian. Pay attention aja. Dibayar dengan atensi kamu. Itu aja.

2. Guided Breathwork

Nafasmu itu adalah password ke sistem syarafmu.

Kamu bisa bilang "Aku aman" sampai mulutmu berbusa. Tapi kalau nafasmu itu pendek atau cepat terengah-engah, ya itu artinya sistem syarafmu enggak akan percaya sama kamu.

Tapi kalau kamu merubah nafasmu bikin lebih panjang, lebih pelan, lebih dalam otak kamu akan mendengarkan. Tubuhmu akan rileks. Alarmmu mulai off, dimatikan gitu.

Ini adalah fisiologi murni. Kamu secara harafiah akan mengubah kondisi fisikmu, dan pikiranmu biasanya akan follow, mengikuti secara otomatis.

3. Trauma Release Exercise

Beberapa hewan di alam liar punya cara alami untuk melepaskan stres mereka.

Seekor rusa yang hampir dimangsa predator akan berlari. Jantungnya berdenyut sangat cepat, adrenalinnya mengalir. Tapi waktu dia tahu dia sudah aman, apa yang dia lakukan?

Dia menggoyangkan tubuhnya. Tremor secara otomatis.

Itu adalah untuk melepaskan semua energi yang sudah terbangun, ketakutannya semuanya. Setelah tremor itu, sistem syarafnya kembali normal. Dia enggak punya trauma dari kejadian barusan. Dia udah lupa.

Tapi manusia kita enggak pernah menggoyangkan diri gitu kan. Kita justru menahan energi itu yang ada di dalam tubuh kita.

Dan itulah kenapa kita punya kesulitan untuk melepaskan trauma di masa lalu. Karena kita enggak pernah menyelesaikan siklus biologisnya secara alami.

Di trauma release exercise, kita menggunakan teknik yang sangat sederhana untuk membantu tubuhmu kembali ke insting alami itu. Balik ke netral lagi. Untuk menggoyangkan, untuk tremor, untuk melepaskan energi yang sudah tersimpan di dalam tubuhmu selama bertahun-tahun.

Dan yang terbaik dari semuanya? Kamu enggak perlu mengingat kembali trauma-trauma lama itu. Tubuhmu sudah secara otomatis tahu apa yang perlu dilepaskan. Kamu cukup membantu tubuhmu melakukan hal itu saja.

Kamu enggak perlu ikutan mikirin, "Oh ini trauma waktu aku masih SMP, ini SMA, ini SD." Enggak perlu.

 

Trauma Lebih Dari Sekadar Ingatan

Trauma itu bukan cuma tentang ingatan atau cerita yang kamu ceritakan tentang dirimu sendiri. Bukan tentang bagaimana hal itu terjadi di masa lalu.

Trauma itu tentang bagaimana tubuhmu masih menyimpannya di dalam tubuhmu. Bagaimana sistem syarafmu itu masih bereaksi secara otomatis. Bagaimana energi itu masih mempengaruhi cara kamu mengambil keputusan, cara kamu berpikir setiap harinya.

Dan sekarang kita tahu bahwa kita enggak perlu terus-menerus hidup dengan pola lama itu.

 

Langkah-Langkah Memulai Somatic Healing

Setelah memahami semua ini, inilah langkah-langkah untuk mulai:

Step 1: Body Awareness Practice

Kamu akan duduk, mendengarkan tubuhmu berbicara. Cari tahu di mana letak ketegangannya atau emosi yang terperangkap tinggal.

Enggak ada yang lain yang perlu dilakukan. Yang perlu kamu lakukan adalah pay with your attention memberikan perhatian saja.

Step 2: Guided Breathwork

Kamu akan membiarkan nafasmu menenangkan sistem syarafmu. Kamu akan merasakan bagaimana perubahan di dalam nafasmu itu bisa memberikan perbedaan yang sangat nyata di dalam tubuhmu.

Ini adalah bagian di mana kamu akan merasakan perubahanmu yang pertama kali. Dari sana mungkin kamu akan mulai paham bedanya. Oh, ternyata ini toh yang dimaksudkan.

Step 3: Trauma Release Exercise

Kalau kamu sudah siap, kita akan lanjut ke trauma release exercise. Di sana kamu akan mengalami sendiri bagaimana tubuhmu bisa melepaskan apa yang belum selesai.

Jangan skip semua stepnya. Jangan terburu-buru. Kamu wajib untuk mendengarkan tubuhmu. Karena dia sudah menungguin kamu, Say. Dia nungguin untuk kamu mendengarkan dia selama bertahun-tahun.

 

Resistance adalah Tanda Perubahan

Ketika kamu mulai melakukan somatic healing, mungkin kamu akan merasa aneh atau tidak nyaman. Ada bagian dari dirimu yang mungkin ingin tetap di pola lama karena itu yang kamu kenal.

Itu namanya resistance atau penolakan, dan itu normal.

Tapi tujuannya adalah untuk melepaskan hal itu. Karena identitas lama itu bukan lagi kamu. Itu hanyalah data lama yang masih tersimpan.

 

Kesimpulan: Move On Berarti Tubuh Juga Harus Move On

Kamu sekarang sudah tahu: Pikiran yang move on belum cukup. Tubuhmu juga harus learn bahwa kamu aman.

Dan caranya bukan dengan terus-menerus menggali trauma lama atau membicarakannya lagi dan lagi. Caranya adalah dengan mengajarkan sistem syaraf kamu melalui somatic healing.

Dengan body awareness, breathwork, dan trauma release, tubuhmu akan mulai percaya bahwa dunia itu aman. Bahwa kamu itu aman.

Dan dari sana, baru kamu bisa benar-benar move on. Bukan cuma di pikiran, tapi di seluruh tubuhmu. Di seluruh sistem syarafmu.

Jadi, siap untuk mulai mendengarkan tubuhmu? Siap untuk benar-benar heal?

Kunci Hidup membimbing kamu dalam setiap langkah ini dengan body awareness practice, guided breathwork, dan trauma release exercise yang dirancang khusus untuk membantu sistem syarafmu kembali ke keadaan aman.

Tubuhmu sudah menunggu. Sekarang giliran kamu untuk mendengarkan.

 

Mau baca di medium? Sudah Move On Tapi Tubuhmu Masih Reaktif? Ini Kenapa

Youtube video : Kalau Kamu Sudah ‘Move On’ Tapi Tubuhmu Masih Reaktif, Video Ini Penting